Pagi ini saya bangun pukul 04.58. Masih ngantuk, mata terasa berat, dan badan belum sepenuhnya siap. Namun karena hari ini adalah Minggu Adven IV—Minggu Adven terakhir sebelum Hari Natal ada niat yang mendorong saya untuk tetap bangun. Saya sempat menyelesaikan tugas sebentar, lalu sekitar pukul 05.00 mandi dan bersiap. Tidak ada perasaan yang istimewa, hanya keinginan sederhana untuk menjalani pagi ini dengan baik.
Pukul 05.42 saya berangkat dari Telkom University. Jalanan masih sepi dan udara pagi terasa tenang. Sekitar pukul 06.12 saya tiba di Biara Skolastikat OSC. Ternyata saya datang terlalu pagi. Awalnya saya mengira akan sampai lebih siang karena kemungkinan macet, tetapi akhirnya saya memilih untuk mencari sarapan terlebih dahulu. Menunggu tidak terasa mengganggu. Justru ada rasa damai, seolah pagi ini memang diminta untuk dijalani dengan lebih pelan.
Sekitar pukul 07.20 saya kembali ke biara. Tak lama kemudian misa dimulai. Misa Adven IV pagi itu terasa khidmat dan hangat, diiringi oleh koor para frater OSC. Suaranya sederhana, tetapi menyentuh. Dalam bacaan dan doa, saya kembali diingatkan bahwa Adven IV adalah masa penantian terakhir sebelum Natal, waktu di mana hati diajak untuk bersiap bukan dengan kesibukan, melainkan dengan keterbukaan.
Yang membuat pagi ini semakin berkesan adalah perjumpaan dengan para frater dan romo. Sambutan mereka ramah, obrolannya ringan, penuh senyum dan cerita. Tidak ada jarak. Saya merasa diterima. Sukacita itu sederhana, tetapi nyata. Rasanya seperti berada bersama orang-orang yang juga menantikan kelahiran Tuhan dengan hati yang terbuka.
Misa selesai sekitar pukul 09.00. Setelah itu kami menikmati snack berupa piscok, onde-onde, dan hidangan sederhana lainnya, ditemani teh hangat. Saya sempat meminta izin kepada Pastor Yosep Pranadi, OSC. Pastor Pran kemudian menyarankan saya untuk mengobrol santai dengan para frater karena beliau sedang melayani sakramen tobat.
Saya pun berbincang dengan Frater Pram dan Frater Dio. Dari obrolan itu saya mengetahui bahwa Frater Pram adalah alumnus Seminari Mertoyudan angkatan 105 dan mengenal SMA Van Lith, yang merupakan almamater saya semasa SMA. Selain kebersamaan yang hangat, saya juga menerima kenang-kenangan berupa gantungan kunci khas OSC dan gelang ziarah Porta Sancta. Hadiah kecil ini terasa sederhana, tetapi penuh makna sebagai tanda perhatian dan perjumpaan.
Waktu berjalan tanpa terasa hingga sekitar pukul 10.12. Saya pun pamit untuk kembali ke Telkom University. Dalam perjalanan pulang, saya menyadari bahwa Adven IV kali ini tidak hanya saya rasakan di altar, tetapi juga dalam perjumpaan dan kebersamaan.
Menjelang Natal, saya belajar bahwa menyambut kelahiran Tuhan Yesus bukan hanya soal dekorasi atau perayaan besar. Kadang Tuhan hadir lewat wajah-wajah yang ramah, lewat perjumpaan yang menghangatkan hati, dan lewat rasa diterima apa adanya. Hari ini, sukacita itu terasa nyata. Di sanalah saya merasakan bahwa Tuhan sungguh hadir dan menyertai.
Pertanyaan Reflektif:
Yusuf menerima rencana Tuhan meskipun tidak sepenuhnya ia pahami. Dalam situasi hidup apa saya sedang diajak untuk percaya dan taat, meskipun rasanya belum jelas?
Pertanyaan Reflektif:
Adven IV adalah masa penantian terakhir sebelum Natal. Apa yang sedang Tuhan persiapkan di dalam hati saya agar saya sungguh siap menyambut kehadiran-Nya?
Pertanyaan Reflektif:
Tuhan hadir sebagai Imanuel, Allah yang menyertai. Melalui perjumpaan dengan orang lain hari ini, di mana saya merasakan kehadiran Tuhan yang nyata?
Sumber: Matius 1:18–24; Yesaya 7:10–14.