๐ "Sebelas Orang, Seribu Cerita, Satu Puncak"
4-5 Mei 2024
Perjalanan ini bukan tentang seberapa tinggi gunung yang kami daki, tapi tentang siapa yang mendaki bersama. Di tengah padatnya rutinitas sekolah dan riuhnya hari-hari remaja, kami sebelas orang teman memutuskan untuk pergi, menukar suara bel dengan bisikan alam, menukar lampu kelas dengan sunrise dari puncak. Malam itu, tanpa banyak rencana yang rapi, kami melangkah. Dan sejak saat itu, semuanya berubah jadi cerita yang akan selalu kami ingat.
Sabtu, 4 Mei 2024. Kami berangkat dari SMA Van Lith, bersebelas orang: aku (Tegar), Mario Adit, Sean, Christo, Anton, Robertus, Arron, Egor, Ais, Tian, dan Selva. Dengan motor sebagai tunggangan, kami konvoi menembus malam. Awalnya aku dibonceng Sean, namun tak lama setelah mulai, motor kami goyang-goyang, membuat kami khawatir. Untuk keamanan, aku pun pindah ke motor Robertus, sementara Sean mengendarai motornya sendiri. Setelah itu, perjalanan mengalir lancar: Muntilan โ Temanggung โ Wonosobo โ Basecamp Patak Banteng, tempat pendakian Gunung Prau dimulai. Sekitar pukul 22.30 malam, kami tiba di parkiran basecamp. Kami registrasi, istirahat sebentar, lalu menanti waktu pendakian. Karena kami memilih tektok mendaki dan turun tanpa menginap pendakian baru diperbolehkan pukul 03.30 dini hari. Saat waktu tiba, langkah demi langkah kami mulai menanjak. Dalam gelap, hanya senter, tekad, dan canda yang menuntun. Rasa lelah datang, tapi tak mengalahkan semangat. Kabut menyambut, dingin menusuk, namun tawa kami cukup jadi pelindung. Dan tepat saat matahari mengintip dari balik cakrawala, kami sampai. Puncak bagian camp area menjadi saksi: kami lengkap. Sunrise menyinari wajah kami lelah, tapi bahagia. Kami tak banyak bicara. Tak perlu. Saat alam memberi hadiah seindah itu, diam pun terasa suci.
โSebab yang membuat perjalanan istimewa bukanlah ketinggian yang dicapai, tapi kehadiran orang-orang yang ikut naik bersama.โ โ Catatan di kabut, Gunung Prau, 2024
Lalu kami melanjutkan perjalanan sekitar 20 menit menuju ke Plang Puncak Gunung Prau dan setelah sampai.. ada yang berfoto ada yang mengabari orang tuanya lalu ada yang mengabari pacarnya, dan saya tidak lupa berdoa singkat mengucap syukur diberi keselamatan dan kesehatan telah sampai di puncak. Lalu setelah dirasa cukup berswafoto diatas, kami turun ke parkiran motor untuk pulang, tapi.... itu kurang cukup untuk mengakhiri cerita, akhirnya kami singgah sejenak untuk makan pagi di Mie Ongklok Longkrang khas Wonosobo.. hahaha itu sangat menarik, karena kami kaget dengan porsi yang kurang besar bagi kami para perantau yang berasal dari luar Jawa... ada yang ketawa karena momen makan ada yang sedih karena harus kembali lagi ke asrama :( dan setelah selesai makan kami berkumpul untuk berdoa dan melanjutkan perjalanan... selama perjalanan pulang saya berusaha menahan kantuk dan sering sering mengobrol dengan Robertus agar dia tidak ngantuk kwkwkwkwkwk, Wonosobo-Temanggung-Magelang-Muntilan ialah rute pulang kami dan sampai di SMA Van Lith dengan keadaan sehat dan selamat. Sampai Jumpa di Cerita Berikutnya... sampai jumpaa....