"Jejak Sejati di Antara Kami"
24-26 Agustus 2024
02 Agustus 2024 Dari ruang kecil dan obrolan santai, mimpi itu lahir. Sebuah ide sederhana yang menyalakan api kecil dalam dada kami Aku, Christo, Robertus, Jacho, Anton, dan Mario Adit. Enam orang dengan semangat yang sama: menggapai Puncak Sejati Gn Sumbing
Tak butuh waktu lama. Grup WhatsApp dibentuk pada 04 Agustus. Dari sana semuanya dimulai: mencari alat sewa, menghubungi transportasi, menyusun logistik. Tapi rencana itu seperti kabut gunung. Datang dan pergi tak menentu. Hingga 14 Agustus, semuanya masih terasa menggantung Akhirnya, pada 18 Agustus, kami duduk bersama di ruang bangsal asrama putra Satu per satu kami buka jalur komunikasi, cek ulang daftar barang, dan menyusun rundown dengan serius. Aku sendiri sempat dapat kontak transportasi pada 19 Agustus, tapi harganya masih tinggi. Untungnya, malam 23 Agustus, Christo membawa kabar baik. Transportasi murah berhasil didapat Hati kami makin mantap. Perjalanan ini benar-benar akan dimulai
Perjalanan Dimulai 24 Agustus 2024 Kami berkumpul di kelas 12.4 pukul 16.30 untuk mengambil foto dan video terakhir sebelum naik. Momen kecil yang ingin kami simpan selamanya Pukul 17.00, roda mobil mulai berputar dari SMA Van Lith menuju Magelang untuk mengambil alat sewa. Setelah Magrib, kami singgah sebentar di rumah eyangnya Mario Adit untuk istirahat, lalu melanjutkan perjalanan Sekitar pukul 21.00, kami tiba di basecamp Sumbing via Garung, Wonosobo Udara dingin langsung menyambut kami. Hening. Tapi tak ada satu pun dari kami yang mengeluh
Hari Pendakian 25 Agustus 2024 Pukul 05.00, kami sarapan di sekitar basecamp Saat kabut masih menari-nari di sela pepohonan, kami bersiap Tepat pukul 08.00, kami naik ojek ke Pos 1 lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki Matahari terasa terik sepanjang siang, membuat setiap langkah terasa berat. Tapi tawa kecil, lelucon receh, dan semangat yang tak pernah surut membuat perjalanan tetap hangat Sekitar pukul 15.00, kami tiba di area camp Kami mendirikan tenda di tengah teriknya langit, lalu duduk diam menikmati senja yang mulai turun perlahan Matahari tenggelam di balik lautan awan. Senja yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang berani naik lebih tinggi Malam hari kami makan bersama dan menyiapkan tenaga untuk summit Pukul 00.00 kami bangun, makan ringan, dan bersiap Tepat pukul 01.30, kami memulai perjalanan menuju puncak Langkah kami menembus gelap malam hanya berbekal headlamp, doa, dan niat yang terus dijaga Udara semakin tipis. Nafas makin pendek. Tapi kami terus maju Sekitar pukul 05.00, kami tiba di puncak kekawah Dan di sana, Tuhan menghadirkan sunrise tepat waktu Cahayanya menghangatkan tubuh dan hati kami yang lelah Kami lanjutkan langkah menuju titik tertinggi: Puncak Sejati, 3371 mdpl Perjalanan menanjak ini menjadi saksi. Bukan tentang siapa yang tercepat, tapi siapa yang tetap bertahan bersama hingga atas Kami berdiri di atas sana. Menatap langit dan bumi sekaligus Kami diam. Menyerap semua rasa yang bahkan tak bisa dituliskan
Setelah 1,5 jam menikmati puncak, kami turun perlahan Sekitar pukul 14.00, kami tiba kembali di basecamp Mandi, bersih-bersih, dan merapikan semua barang serta kenangan Pukul 15.30, mobil jemputan tiba Sebelum kembali ke SMA, kami mampir ke rumah eyang Mario di Magelang untuk beristirahat sejenak Dan pada pukul 21.00, kami tiba kembali di SMA Van Lith Kembali dengan tubuh lelah, tapi hati penuh
“Kami mendaki bukan untuk menaklukkan puncak, justru kami ditaklukkan oleh satu kesadaran: bahwa makna ‘sejati’ tumbuh dalam langkah-langkah yang dijaga bersama.” — Puncak Sejati, 3371 mdpl
Pendakian ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Ia adalah catatan tentang persahabatan, tentang saling menjaga langkah, dan tentang makna sejati dari kata “bersama”. Kami naik gunung untuk mencari ketinggian. Tapi yang kami temukan jauh lebih dari itu. Sebuah kesadaran: bahwa ketinggian tidak akan pernah berarti jika dicapai sendirian. Dan mungkin, justru di sanalah letak Puncak Sejati itu sendiri.