"Jejak Langkah di Gunung Ratai: Dari Reuni, Tersesat, hingga Puncak 1682 MDPL"
11-14 Mei 2025
Awal Bulan Mei 2025 Dari dm Instagram dan chat WhatsApp, Kevin yang telah save kontak baru saya karena disaat itu Kevin membahas pendaftaran universitas... tiba tiba saya punya ide untuk mendaki gunung di Lampung dan sekaligus Reuni teman teman SMP, Kevin setuju dan cerita itu dimulai...
Tak butuh waktu lama. Saya segera menghubungi Yecen melalui dm Instagram... lalu saya juga menghubungi Cardo melalui dm Instagram juga... Di momen itu Yecen dan Cardo menanggapi dengan kata "setuju dan jadwalkan Gar..." Lalu saya segera mengabari Kevin bahwa Yecen dan Cardo bisa..., lalu kami menjadwalkan waktunya... bagaimana kalau di tanggal 12 Mei? Kevin bisa, Yecen bisa, Cardo ternyata tidak bisa sebab dia ada tes casis prajurit TNI. Lalu setelah berunding lama, dengan kontak sana sini dan melihat situasi dan kondisi yang dimana jadwalnya bertabrakan alhasil rencana kami batalkan sementara. Lalu Kevin chat kalau ada yang bisa di tanggal yang kami bisa yaitu Moses dan Dian, saya langsung setuju
Perjalanan Dimulai Minggu malam, 11 Mei 2025 Kami berkumpul di rumah Kevin dan menginap semalam, disitu kami temu kangen "reuni kecil" teman teman SMP walau tidak banyak... Tertawa melepas rindu sudah lama tidak jumpa dan lost contact.... lanjut kami istirahat hingga besok pagi di hari Senin, 12 Mei 2025 kami sekitar jam 12 Siang berangkat menuju Gn Ratai
Permasalahan dimulai... Kami buta map alias tersesat disaat hilang sinyal juga, lalu tiba2 kami berjumpa dengan rombongan abang abang sekitar 6 motor... dan abang abang itu bertanya "ngecamp bang?" dengan spontan kami menjawab "iya bang"... Saya awalnya curiga dengan tujuan abang abang itu, tetapi teman teman saya langsung mengikuti saja abang abang itu... setelah menempuh cukup jauh dan berkendara cukup menanjak kami sampailah di sebuah tempat yang ramai tetapi kecurigaan saya bertambah hingga saya memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu pemilik warung. Setelah bertanya-tanya, ternyata dan ternyata tempat ini bukanlah Basecamp Pendakian tetapi seperti tempat wisata pemandangan dan bukanlah tempat pendakian... :( Saya langsung bertanya kepada teman2 "Bagaimana, mau lanjut nyari basecamp nya gk?" mereka dengan segera menjawab "oke gar, ngikut".., lalu saya bersama teman teman kebawah lagi tempat dimana percabangan bertemu abang abang tadi.. Matahari mulai menghilang tanda malam akan datang sementara kami belum berjumpa basecamp pendakiannya... lalu kami beristirahat sejenak di sebuah tempat yang dimana itu ialah tempat Juru Kunci Gunung Ratai (mohon maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya) Kami berbincang-bincang dan ternyata bisa naik ke Puncak melalui jalur Bapak ini, akan tetapi kami berdiskusi untuk memilih opsi yang aman saja, kami pun beristirahat... Selasa, 13 Mei pagi kami turun ke pasar bawah untuk sarapan dan istirahat sejenak di warung, sekitar jam2 11 an kami menuju basecamp resmi Gn Ratai, hilang sinyal membuat inisiatif saya bertanya kepada penduduk setempat, lama perjalanan kami sampai dan parkir di rumah warga.. lalu saya bersalam tangan tanda permisi dan perkenalan meminta izin beristirahat di rumah bapak ini, ternyata diperbolehkan.., sinyal tak ada, alhasil kami tidur sampai sore.. lalu kami mandi, nyari makan, lalu persiapan peregangan badan agar tidak tegang untuk mendaki.. Rabu, 14 Mei 2025 alarm di subuh sekitar jam2 03.15 kami bangun dan persiapan.... membersihkan diri dulu... lanjut berdoa dan mulai mendaki...
Waktu Pendakian ; Ternyata dari rumah warga ke basecamp sangatlahh jauh sekitar 1 jam perjalanan, lalu setelah sampai di basecamp (Puncak Punggung Naga), kami menunggu pos tiket simaksi sambil menikmati sunrise dan cuaca aman... Gerimis, dingin... menunggu pos tiket yang lama hingga sesi waktu sunrise telah habis.. lalu kami makan nasi dan lauk yang ada untuk sarapan... lalu kami memutuskan untuk naik, lalu pos demi pos kami lewati... Hingga pada akhirnya dari pos 3 ke pos 4 hal yang mengerikan bagi saya terjadi... bunyi gerak kaki hewan (seperti babi hutan), lalu bunyi seperti hewan kera bersaut-sautan, disitu saya langsung menyuruh teman teman mengambil / memakai tongkat kayu dengan yang kayu bagian tajam berada di atas (agar posisi selalu siap jika darurat), Disitu saya pakai tracking pole milik saya yang terbilang cukup kuat dan runcing (tracking pole khusus) dan saya sebagai pembuka jalan dengan posisi kami yang selalu siap, perlahan demi perlahan kami sampai di pos 4... lanjut kami ke puncak dengan rute lebih mendaki dan ada tali panjatnya
Puji Tuhan walaupun dengan kondisi gerimis dan mengerikan, kami telah sampai di Puncak Gunung Ratai 1682 MDPL, lalu kami tidak lupa mengabadikan momen seru ini... Saya berpesan kepada teman teman untuk tidak lama-lama di puncak dikarenakan kabut semakin tebal dan gerimis, lalu sekitar 30 menitan kami pun turun... dengan formasi dan posisi saling menjaga satu sama lain... Berangkat tadi mendaki sekali... nahhh sekarang waktunya meluncurrr wkwkwkwkwkkw, kurang lebih 2 jam kami sampai lagi di Puncak Punggung Naga dan mas mas petugas tiket telah datang... kami menyempatkan cuci cuci wajah, celana dan yang kotor lainnya.. Lalu kami turun sekitar 1 jam kami sampai di rumah bapak sekaligus tempat parkir motor kami... Kami mengucapkan terimakasih kepada bapak/ibu pemilik rumah yang telah mengizinkan kami beristirahat semalam, lalu sekitar sehabis sore, kami persiapan pulang dan sekitar jam2 21.00 kami telah sampai di Bandar Lampung
“Kadang tersesat bukan berarti salah arah bisa jadi itu cara alam menunjukkan siapa yang benar-benar peduli untuk tetap bersama." — Puncak Ratai, 1682 mdpl
Perjalanan ini bukan sekadar mendaki gunung, tapi mendaki kenangan. Di tengah kabut, gerimis, dan keheningan alam, kami menemukan kembali tawa lama, semangat persaudaraan, dan keberanian yang tak pernah kami sadari sebelumnya. Gunung Ratai bukan hanya menghadirkan pemandangan dari puncak, tapi juga pelajaran dari perjalanan: tentang kerja sama, kesabaran, dan keyakinan untuk terus maju meski arah sempat tak jelas. Kini kami pulang, membawa bukan hanya foto-foto pendakian, tetapi cerita yang akan kami kenang seumur hidup. Reuni ini bukan sekadar pertemuan, tapi awal dari kisah baru. Dan mungkin, suatu saat nanti, kami akan kembali lebih siap, lebih dewasa, dan tetap bersama.