"Menjadi Garam dan Terang: Jejak Langkah Angkatan 32 di Missio Canonica 2025"
12 April 2025
Ada momen dalam hidup yang tak sekadar perayaan, tetapi pengutusan. Missio Canonica 2025 adalah momen itu sebuah upacara sakral, tenang, dan penuh makna. Di Kapel St Yoseph Pekerja, sebuah Kapel yang memiliki banyak makna dan memories di dalam bangunannya, satu per satu siswa kelas 12 Angkatan 32 SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan melangkah maju. Bukan hanya sebagai lulusan, tapi sebagai kader rasul awam yang siap diutus untuk menjadi garam dan terang di tengah masyarakat.
Hari itu bukan hanya tentang kelulusan. Hari itu adalah tentang panggilan. Panggilan untuk hadir di tengah dunia bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk melayani. Untuk menjadi pribadi yang setia, sederhana, dan siap membawa terang ke mana pun kaki berpijak. Yang membuat hari itu begitu istimewa adalah warna-warni kebangsaan yang terpancar dari pakaian adat yang dikenakan para siswa. Kami berdiri bersama, dalam satu barisan, namun membawa identitas budaya yang beragam: ulos Medan, songket Palembang, tanjak Riau, tapis Lampung, kebaya Betawi dari Jakarta, baju adat Banten yang anggun, batik Sunda, beskap Jawa, tenun Kalimantan yang khas, ikat dari NTT, busana adat Sulawesi, hingga mahkota burung Cendrawasih dari Papua. Dari barat hingga timur, dari Sabang sampai Merauke Indonesia hadir dalam satu panggung. Kami bukan sekadar murid yang dilepas, kami adalah anak bangsa yang siap kembali ke tanah asal, membawa misi pelayanan dan semangat persaudaraan. Dalam balutan budaya itu, kami menyadari: bangsa ini terlalu besar untuk diubah sendiri. Tapi kami bisa mulai dari yang kecil dari hati yang siap memberi, dari tangan yang mau bekerja, dan dari langkah yang terus berjalan dengan iman. Itulah semangat Van Lith yang hidup dalam diri kami. Kami bukan lagi sekadar siswa. Kami adalah utusan. Kami adalah Angkatan 32. Dan kini, saat pengutusan, kami melangkah keluar dari gerbang Van Lith dengan harapan, iman, dan cinta yang tumbuh dari tiga tahun pembentukan yang tak akan pernah kami lupakan. Untuk teman-teman seperjalanan, Angkatan 32: terima kasih telah menjadi rumah dalam perjuangan ini. Kita mungkin akan berpisah arah, namun nilai yang telah kita hayati akan selalu menyatukan langkah kita. Mari terus menjadi garam dan terang, di mana pun Tuhan menempatkan kita. Jangan lupa kita tak lagi satu atap, tapi selalu satu jiwa. Tweevenanta !! Berlari Tanpa Batas !!!