"Dalam Diam Mereka Bicara, Dalam Lelah Kami Mendengar"
17-21 Maret 2024
Mengingat Hari.... Saat itu ialah Hari Sabtu, 16 Maret 2024, kami Angkatan 32 dikumpulkan di Aula.. entah apa yang ingin dibahas tetapi apapun itu yang sudah pasti ini mengenai kegiatan yang akan kami ikuti... Dan ternyata benar kami mengikuti kegiatan Pembekalan RKKS 2024_Angkatan 32. RKKS ialah singkatan Retret Kesadaran dan Kepekaan Sosial, RKKS merupakan kegiatan tahunan yang dimilik SMA Van Lith pada jenjang kelas 11. Ketika pembagian wilayah penugasan, saya mendapat penugasan di Wilayah Pingit Yogyakarta. Disitu saya sekelompok dengan Tian, dan kami berdua sama sekali tidak tahu dimana lokasi itu, apa kegiatan kami disana dan apakah kami mampu menjalankan tugas ini?
Malam silih berganti menjadi Hari Minggu pagi (17-3-2024), seperti biasa sejuknya Muntilan di pagi hari dan disambutnya "bangunnya" matahari kami tidak lupa untuk mengikuti misa mingguan di Kapel St Yoseph Pekerja, SMA Van Lith. Di dalam khusuknya misa pagi, tidak lupa kami mengucap syukur dan memohon berkat kepada Tuhan Yesus untuk memberkati proses dinamika RKKS kami... Sekiranya di jam2 08.00 setelah selesai refter(makan) pagi kami bersiap untuk berkumpul di Aula dengan diawali berdoa..mendengarkan arahan singkat.. dan check tas (memastikan kami tidak membawa barang terlarang) Bus-bus dengan tulisan Solo, Semarang, Klaten mulai berdatangan menjemput siswa siswi yang mendapat wilayahnya masing masing... lalu sekitar 45 menit kemudian bus dengan tulisan Yogyakarta, Magelang datang untuk menjemput juga.
Bus rombongan Yogyakarta berangkat dan sekitar 1 jam perjalanan kami telah sampai di titik point Pastoran Katolik Wisma Mahasiswa Yogyakarya, disambut Pavali, FKMPP, dan Panitia orang tua yang sangat hangat menyambut kami... Waktu berjalan lama, kami makan siang dahulu lalu kami dikumpulkan sesuai wilayah kami masing masing, ternyata saya dan tian sekelompok dengan Alex, Georgia, Elga, Igi. Kami pada saat itu tertawa tawa sebab kami saling akrab... lalu kami diantar oleh Pak Boni, mas-mas Pavali, panitia orang tua ke wilayah Pingit(belakang Universitas Janabadra). Day 1 : Kami masih tahap berkenalan dengan para pengurus Panti Sosial Pingit (dikelola oleh Kongregasi Jesuit), kedatangan kami disambut oleh Frater Amadea dan Frater Barry. Mereka berdua menyambut kami dengan penuh sukacita dan gembira dari raut wajahnya dan kami malah tampak bingung.. apakah kami bisa belajar disini? Waktu berjalan kami berkenalan hingga malam hari dengan pengurus wilayah setempat (pak rt, rw) lalu kami lanjut berbincang bincang ya..seperti briefing singkat lah.. Pas sekali kami beranggota 6 orang, dibagi 3 hari penugasan (jadi 1 tim 2 orang untuk bekerja bersama sama dan esok harinya rolling bekerja).
Day 2 : Saya dan Tian mengawali hari ke rumahnya Ibu Dewi untuk berangkat ke warung makan di sebuah kantor di Yogyakarta (jaraknya tidak jauh kok), kami beres2 awal, membantu masak masak, mencuci piring dan gelas kotor agar bersih untuk konsumen.. dan momen itu juga ialah hari ramadhan / puasa... saya awalnya kasian juga puasa begini pasti sepi... tetapi rezeki tidak akan kemana-mana, ada saja pembeli yang non muslim.. pekerja perempuan yang tidak puasa, makan pagi kami yang menyiapkan, banyak yang tidak puasa karena lagi sakit/halangan. Lalu kami beres2 untuk mempersiapkan makanan makan siang, capek juga ternyata ya... jam makan siang tiba, ramai pembeli datang.. ada yang dine in, ada yang take away... lalu kami beres2 lagi dan ternyata warung tidak tutup malam hari tetapi tutup di jam petang (15.30), lalu kami beres2, nyapu, dan mengelap etalase... lalu kami pun pulang kembali ke persinggahan kami...
Day 3 : Malam pun silih berganti, kami melihat lampu terang di Jogja kota dari kami yang berada di pinggiran ini, di pagi harinya saya dan Tian bekerja dan membantu Ibu Tatik(ibunda Ibu Dewi), kami bekerja di Pemakaman yang sudah ada sejak jaman Belanda.. ada makam pahlawan tanpa nama, ada makam istrinya Douwes Dekker... Tidak segampang yang kami kira, ternyata megang arit dengan waktu lama itu berat juga wahahaha, tetapi kami belajar untuk kuat, tidak menyerah, yakinlah Tuhan bersama kita jika kita berbuat baik, Ibu Tatik menyuruh kami pulang ketika sudah siang hari tetapi kami tidak mau pulang dan tetap membantu ibu tatik sampai selesai, untungnya saya pakai topi jadi bisa meminimalisir panas dan pusing kepala. Lalu kami istirahat siang dengan teh dan roti bungkus, sederhana tetapi penuh makna... kami berbincang bincang dengan ibu, beliau bisa menyekolahkan anak anaknya dan bisa merenovasi rumah yang layak huni.
Day 4 : Hari telah berakhir ketika matahari mulai terbenam dan bulan pun menampakkan dirinya, mungkin ini adalah hari terakhir kami berdinamika RKKS, di hari terakhir ini saya dan Tian bekerja di Angkringan tempat Ibu Payem. Kami disini hanya membantu membuatkan minum untuk pembeli yang buka puasa, seperti teh, kopi, bandrek... ada yang memesan nasi kucing dengan lauk sate satean yang khas. Mulai dari persiapan masak, beres2 persiapan buka gerobak angkringannya, menyapu, mengelap meja meja dan mencuci piring dan gelas.
RKKS bukan sekadar kegiatan sosial, tapi perjalanan hati yang membuka mata kami tentang arti pelayanan. Dalam diam, mereka mengajarkan kami ketulusan. Dalam lelah, kami belajar mendengar dan memahami. Dari warung, makam, hingga angkringan, kami menyadari bahwa kasih hadir dalam hal-hal sederhana: membantu memasak, menyeduh teh, membersihkan makam. Kami belajar bahwa melayani tak harus besar, cukup dengan hati yang tulus. Kelelahan justru menguatkan kami. Kami belajar bersyukur, bertahan, dan berjalan bersama. Tuhan hadir dalam wajah-wajah sederhana yang kami temui, dan dari mereka kami belajar menjadi manusia yang lebih peka. Kami pulang bukan dengan banyak barang, tapi dengan hati yang penuh makna. Kami belajar bahwa hidup adalah tentang hadir, mendengarkan, dan menjadi berkat bagi sesama.