"Satu Malam, Seribu Cerita: Trip Kereta dari Van Lith ke Bandung"
11-12 November 2023
Kadang, momen paling tak terlupakan justru bermula dari hal-hal paling sederhana sebuah ide random di tengah pelajaran, sebuah ajakan iseng yang berujung petualangan. Inilah kisah tentang sekelompok siswa asrama yang merangkai memori dari sebuah perjalanan singkat, tapi penuh tawa, kepanikan, dan rasa syukur. Hanya satu malam, namun terasa seperti seumur hidup.
Kadang ide gila muncul bukan dari obrolan serius, melainkan dari percikan random di tengah pelajaran. Seperti siang itu di kelas 11.5 SMA PL Van Lith, saat pelajaran Geografi dan Sosiologi membahas tentang interaksi sosial, dua anak asrama yaitu Tegar dan Abe malah saling lempar ide: “Gimana kalau trip naik kereta, yuk?” Dari satu ide kecil itulah, cerita besar dimulai. Cerita tentang perjalanan dadakan, kehangatan persahabatan, dan bagaimana satu malam bisa penuh dengan tawa, panik, mie instan, dan kenangan yang akan tinggal selamanya.
Di bulan Oktober 2023, saya (Tegar) tiba-tiba mengajak Abe untuk naik kereta bareng. Tapi rasanya terlalu sepi kalau cuma berdua. Akhirnya saya mengajak Egor, yang masih harus izin dulu lewat chat ke orang tua. Lalu saya ajak Dimitri yang langsung setuju tanpa pikir panjang. Dimas Renanta juga saya ajak, dan karena dia pecinta kereta, dia antusias (meski tetap perlu izin ortu). Terakhir, saya ajak Stanlee, dan dia juga bilang, “Oke, gas!” Awal November, semua konfirmasi: bisa. Kami cek kalender, dan menemukan satu-satunya hari libur pendek Sabtu sore sampai Minggu sore, 11–12 November 2023. Waktu yang sempit, tapi semangat kami besar. Kami putuskan: jalan terus.
H-7, tiket kereta dibeli dan rencana kegiatan disusun. Abe dan Egor sempat sibuk karena harus mengurus band angkatan yang tampil untuk galang dana Aksi Sosial. Kami semua siap membawa tas kecil berisi baju, jaket, camilan, dan semangat petualangan. Sabtu, 11 November. Seusai sekolah, kami makan siang lalu naik bus lintas Muntilan–Terminal Jombor. Sampai di Jogja, godaan muncul: junk food! Anak asrama jarang ketemu McD, jadi kami makan puas-puas. Egor dan Abe langsung ke kafe tempat acara band. Saya, Dimitri, Stanlee, dan Dimas (yang tidak terlibat acara band) memutuskan pergi misa sore di Gereja Kotabaru. Karena waktu mepet, kami naik Gocar. Di dalam mobil, kami ganti baju rapi sambil minta izin sopir untungnya, beliau maklum.
Kami sampai di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru dan ikut misa. Setelah itu, saya dan Dimas bersih-bersih di kamar mandi, lalu kami jalan kaki tembus gang menuju Malioboro. Kami bukan anak Jogja, jadi cuma Dimas yang jadi penunjuk jalan. Setelah puas, kami naik Trans Jogja ke arah Tugu, lalu lanjut jalan kaki ke kafe tempat Abe dan Egor berada. Mereka terkejut kami sampai tanpa nyasar. Kami duduk ngobrol, lalu kelaparan. Tapi menu di kafe mahal akhirnya kami kembali ke habitat alami anak kos: Warmindo. Sambil makan mie dan ngobrol seru, waktu pun terus berjalan...
Tiba-tiba kami sadar: waktunya sudah mepet untuk ke stasiun. Masalahnya, Abe belum selesai menghitung uang hasil galang dana. Kami panik. Abe bilang, “Kalian duluan aja, aku nyusul.” Tapi kami semua cemas dia akan ketinggalan. Karena Trans Jogja sudah tutup, kami buru-buru pesan Gocar ke Stasiun Lempuyangan. Cetak tiket, lalu... Abe muncul tepat waktu! Kami masuk ke gerbong, duduk di kursi masing-masing, dan menjaga barang. Saya ingin menikmati suasana kereta, tapi lebih memilih fokus menjaga tas. Abe juga terjaga, Dimas tidak tidur, Egor tidur pulas, Dimitri dan Stanlee setengah sadar tapi kami semua dalam satu gerbong, satu cerita.
“Kami cuma anak-anak asrama, bukan backpacker sejati. Tapi dengan tas kecil, dan nyali besar kami menaklukkan Jogja, Bandung, dan warmindo tengah malam.” — Ditulis oleh pemuda-pemuda yang paham cara menikmati di setiap tikungan cerita.
Fajar menyingsing, dan kami tiba di Stasiun Kiaracondong. Kami berdoa, bersyukur semua berjalan lancar. Sarapan nasi kuning dan beli oleh-oleh. Tak lama kemudian, kami kembali naik kereta ke arah Yogyakarta. Rasanya cepat sekali baru saja sampai, sudah harus pulang. Jam 2 siang kami tiba di Lempuyangan. Karena gerbang asrama akan tutup jam 5 sore, kami langsung naik Gocar kembali ke Muntilan. Di mobil, Egor, Dimitri, dan Abe tertidur. Saya, Dimas, dan Stanlee menikmati perjalanan pulang. Kami sampai di SMA PL Van Lith sekitar pukul 3 sore. Selesai. Tapi kisahnya belum usai karena kenangan itu masih menempel di kepala dan hati kami semua.
Satu malam. Satu petualangan. Tapi tak ternilai rasanya. Kami mungkin tidak mengunjungi banyak tempat, tidak bermalam di hotel, atau jalan-jalan mewah. Tapi kami bawa pulang sesuatu yang jauh lebih besar: cerita, tawa, kepanikan lucu, dan persahabatan yang makin erat. Ini bukan sekadar perjalanan... ini bukti bahwa kadang, rencana spontan bisa jadi kisah paling berkesan.