Dari rooftop kapel
kulihat langit menghapus jejak air mata bumi
gerimis yang barusan pamit
meninggalkan bayang lembut pada genting yang basah.
Awan-awan luruh
seperti helai doa yang tak sempat terucap
perlahan hanyut di antara bias jingga dan sisa mendung
yang malu-malu dipeluk cahaya.
Langit tak lagi marah
dan aku duduk sendiri
di sudut atap yang tinggi
membiarkan sunyi menenangkan riuh dalam diri.
Angin membawa harum tanah basah
seraya membisikkan
bahwa badai pun tahu caranya pergi
dan tak semua tangis berakhir gelap.
Sore ini
bukan hanya awan yang luruh
tapi juga rasa sesak yang tak sempat kutumpahkan
dan senja ia menyembuhkannya dengan diam yang paling lembut.